Paspor saya : Indonesia !

15 07 2011

Selama ini, karena kesal sering kali bermasalah dalam pengurusan visa ke luar negeri dengan paspor Indonesia, sering ada percakapan antar teman2, gimana ya kalau kita ganti paspor aja? Asyik kali ya kalau punya paspor yang diterima di negara mana saja, tanpa perlu ribet-ribet ngurus visa, tanpa perlu deg2an nungguin apakah visa kita akan diapprove atau ngga, tanpa perlu menghadapi pertanyaan2 penuh selidik petugas imigrasi, atau senteran, tatapan penuh selidik anjing2 penjaga perbatasan, dan bebas melenggang keluar airport atau kereta api.
Tapi saya selalu bersikeras. TIDAK,  sejelek2nya paspor saya, mengantongi paspor ber-garuda emas adalah identitasku. Saya orang INDONESIA. Walau begitu, hari ini ide itu mau tak mau sempat melintas di kepala.
Semua berawal dari kegembiraan karena akhirnya abstract penelitian saya diterima untuk presentasi di Inggris. Dengan semangat, semua semua prosedur aplikasi ke konsulat Inggris di Dusseldorf saya buat. Ya, Dusseldorf, Jerman. Karena masalah pengetatan budget, pemerintah Inggris menutup konsulatnya di Amsterdam, Belanda, sehingga semua orang non-EU yang perlu visa Inggris, harus jauh2 hari pergi melintas negara ke Jerman, demi pengurusan visa, dan kembali ke Belanda tanpa paspor sambil dag dig dug karena visa akan dikirim via pos dari BERLIN atau FRANKFRUT!!!!!
Jadi pagi ini saya berangkat pagi2 ke stasiun kereta, semua dokumen audah saya siapkan dari 3 hari sebelumnya, termasuk tiket kereta api ICE-krta cepat Jerman yang sudah dibeli 1 bln sebelumnya. Sepuluh menit sebelum kereta berangkat: Maaf, kereta ICE 121 tidak beroperasi hari ini, penumpang disarankan mengambil kereta 1 jam berikutnya. Apaaaaa??????

Semua calon penumpang langsung beranjak ke tiket counter untuk menukarkan karcis. Apa ada kereta lain, tanya saya? Tidak, maaf kata petugas kereta Belanda. Saya mencoba melihat dari web Bahn-DE, krta jerman apakah memang ada alternatif kereta lain…. NIHIL, krta alternatif baru saja berangkat 15 mnt sblmnya…artinya, kalau saja mereka memberitahukan keterlambatan itu lbh awal, sebenernya bisa2 saja saya mengejar kereta ke perbatasan. Ok  krta yg berikutnya ini akan tiba 10.20, berarti saya akan terlambat 7 menit utk janji visa. Masih bisa ! Ok, walau ketar ketir dan harus berdiri 2.5 jam dari Utrecht ke Dusseldorf, saya masih bisa menetapi janji visa saya. 10 menit telat masih ditolerir.
Panik2 saya masih mencoba mengkontak visa service UK di Dusseldorf  Teman saya Putri terpaksa saya bangunkan pagi2, dan ikut sibuk mencarikan no telp pelayanan visa di Dusseldorf( dan yg ngga bisa dihubungi sblm jam 9)
dan mencoba mengubah jadwal. No.telp di dapat, tapi entah mengapa aplikasi web tidak dapat diakses. Ok, saya tetap mencoba, dan kereta pun sampai di kota perbatasan, Arnhem.

Ratusan orang kembali masuk kereta, mereka2 yang juga terlantar karena krta sebelumnya dibatalkan. Tiba2 diumumkan: Kereta terlalu penuh, mohon penumpang yang tidak reservasi kereta ini turun dan naik bus yang AKAN disediakan sampai Duisburg di Jerman. Apaaaaa?
Terjadi perdebatan sengit, semua orang menolak turun, banyak yang harus mengejar pesawat di Frankfrut. Ini gila!  Saya meneteskan air mata. Kesal bukan kepalang! Kalau penuh kenapa tidak dipikirkan alternatif sedari tadi? Kenapa pintu kereta dibuka di Arnhem????

Tahu bakal telat, saya pun mencoba menelpon ke pelayanan visa di Jerman. Ternyata untuk bicara dengan petugasnya, saya harus memasukkan detail kartu kredit dan dicharge 14 USD. Petugas pelayanan visa hanya bisa mengatakan saya harus membuat janji baru, dan kalau tidak datang dalam 10 menit dari jam janji, maka janji otomatis dibatalkan. Segera saya berlari ke pintu keluar dan bertanya pada masinis, dan…. Pintu kereta sudah terkunci karena akhirnya stlh sebagian penumpang turun, krta akan berangkat.

Saya Murka ! Hilang sudah kemampuan bahasa Belanda. Dalam bahasa Inggris saya marah dan katakan pada masinis jutek itu, tolong ya, appointment saya dicancel, ngapain saya ke Jerman??? Kalau gitu kamu bisa turun di kota berikutnya: Oberhaussen! Trus, gw mesti beli karcis baru??????!!!!! Untung (ya, saya orang Indonesia, saya optimistik yang selalu bilang masih UNTUNG), teman si jutek masih baik, dimintanya tiket pulang saya dari Dusseldorf, ditulisnya sebuah nota, sehingga saya bisa kembali ke Utrecht tanpa tambahan biaya. Walau begitu saya tetap kesal, mengucapkan THANK YOU dan ngacir tanpa menunggu dia selesai mengucapkan ” Sorry and thank you for your understanding..”
Saat itulah kata2 teman2 soal paspor Indonesia yang bapuk dan bikin kita didiskriminasi dimana-mana terngiang kembali. Ganti paspor, apakah itu solusi?

Sambil berjalan menyusuri kota Oberhaussen yang mendung, saya malah berpikir sebaliknya.
Kenapa segala kesulitan ini tampak sebanding dengan kehilangan status sebagai warga negara Indonesia. Saya bangga dan cinta jadi bangsa Indonesia, namun kadang saya kehilangan kepercayaan sebagai warga negara Indonesia.  Kenapa negara saya membuat warganya sengsara, diinjak2 di negeri orang, dipersulit dan dianggap rendah di negara lain?
Saya lalu putuskan, TIDAK, saya tidak akan pernah menyerah. Tanah air beta INDONESIA, dan di atas pasporku haruslah tercetak si Garuda, bukan burung2 yang lain. Walau kami dipersulit, dicurigai, dianggap remeh, kami akan buktikan, kami orang2 berpaspor Garuda emas, bukan orang sembarangan! Lagian, ngga sudi saya jadi warga negara yang kerjanya ngerepotin orang soal visa ! Atau ngaku2 negara maju, tapi kualitas layanannya sama aja kayak Indonesia.

Lalu bagaimana dengan orang2 Indonesia yang (ingin) mengganti paspornya dengan paspor negara lain? Saya yakin apapun paspornya, di dalam dirinya selalu terpatri sang garuda, selalu ada dalam ingatan bahwa dirinya adalah orang Indonesia, bangsa Indonesia. Kadang2 nasionalisme tidak bisa dengan mudah diterjemahkan dengan paspor semata. Nasionalisme tidak bisa diterjemahkan dengan status, dokumen ataupun keberadaan. Nasionalisme harus diukur dengan sumbangsih positif, dan tingkah laku santun dan ramah, ciri khas orang Indonesia. Keinginan mengharumkan nama bangsa akan selalu ada, dan kadang itu semua harus dicapai dengan mengganti negara.
Selamat berjuang bangsa Indonesia, dimanapun kau berada.
Dan aku akan berjuang, walau harus bersenjatakan paspor hijau ‘bapuk’ ini.





Sejak kapan saya benci hujan ?

11 06 2011

Sejak kapan saya benci hujan?

Itu pertanyaan yang menggantung di kepala saat beranjak dari rumah di sore yang basah dan dingin menuju tempat berlatih suara. Sebab musabab saya menanyakan pertanyaan itu pada diri sendiri adalah percakapan yang saya lakukan dengan teman serumah sebelum meninggalkan rumah.

Teman : ” Oh, Wat een regen ! Erg slecht weer !” (Ya ampun, hujannyaaa. Cuaca buruk banget sih)
Saya : ” Ja! Maar toch het is toch een goede weer om te slapen” (Ya,  tapi kan ini cuaca bagus buat tidur)

Di dalam bus, yang penumpangnya semua diam membisu (mungkin mengutuki cuaca) saya jadi bertanya-tanya sendiri mengapa saya mengiyakan pernyataan basa-basi teman saya tadi. Mengapa saya menjawab “Ya” pada pernyataannya soal cuaca yang buruk. Sejak kapan saya jadi benci hujan begini?

Hujan sebenarnya adalah sensasi tersendiri. Guyuran air yang turun ke bumi dari langit. Udara dingin membuai kulit. Suara ribuan partikel yang jatuh ke bawah merambati rantai-rantai berlumut yang menggantung di saluran air, dan bau tanah yang menyengat setelahnya. Saat muda (atau kecil),  setiap hujan yang tak berguntur, biasanya saya menatap jendela, mengamati guyuran hujan yang mengenai tanah, menguapkan baunya yang khas, kemudian membentuk genangan air, yang kian lama kian banyak menyungai di depan pagar rumah, menghayutkan sampah apa saja yang ada di jalan dan meluncurkannya ke dalam got. Sambil sekali-kali berusaha menginspirasikan gerakan aliran air untuk pemahaman lebih akan ilmu biologi atau fisika (usaha yang sia-sia). Momen hening, menatap hujan, rasanya alam begitu indah. Singkat kata, saya suka hujan !

Mungkinkah saya benci hujan sejak saya pindah ke negeri kincir ini? Percakapan antara saya dengan teman serumah di atas adalah percakapan basa-basi standar khas orang Belanda. Percakapan antar mereka biasanya diawali soal ramalan cuaca, kapan matahari akan bersinar (mooi weer – cuaca bagus) dan soal cuaca mereka yang buruk. Topik pembicaraan soal cuaca ini dimaklumilah adanya, karena walau di benua Eropa, ada 4 musim, di Belanda tampaknya hanya ada dua musim, musim “Mooi weer” dan musim “Slecht weer”(Cuaca buruk). Musim “Mooi Weer” dapat dihitung dengan jari keberadaannya dalam setahun, dan biasanya dirayakan orang Belanda dengan ramai-ramai berjemur di bawah sinar matahari. Kadang mereka tidak bisa mengerti alasan kita yang menolak bergabung karena alasan”takut hitam” saat “Mooi weer”. Dalam 356 hari dalam setahun, “Mooi weer” cuma berlaku sekitar mungkin, 30 hari (ini hitungan kasar saya sendiri). Jadi, maklum saja kalau di musim “slecht weer”, semua orang rata-rata menjadi bernegatif ria dan menggerutu.

Mungkin karena pengaruh cuacanya, atau pengaruh orang-orang dalam menghadapi cuaca inilah yang membuat saya urun mengiyakan bahwa hujan adalah sesuatu yang negatif, sesuatu yang perlu dihina dan dijabat sebagai “SLECHT WEER”. Bukan lagi nuansa romantis yang selalu ditunggu-tunggu ditatap dari balik jendela.

Atau mungkin bahkan sebelum itu. Di Jakarta, mungkinkah semua kebencian dimulai? Hujan sama dengan (tambah) macet dan banjir. Bedanya, di Jakarta, alih-alih keluhan akan cuaca yang terdengar, umpatan akan pemerintah kota yang tidak becus menanggulangi masalah yang akan terdengar. Apa karena itu imbasnya aku jadi kurang suka kalau hujan? Walau, menatap rintik hujan yang jatuh ke kaca mobil depan, atau melihat tawa anak-anak tukang payung, mencium bau tanah dari lubang-lubang di pinggir jalan……..Rasanya aku masih cinta hujan di Jakarta.

Jadi apakah cuma sekarang, di Belanda ini saya jadi benci hujan? Mungkin saya merindukan bau tanahnya. Jalan yang bagus, semua yang tersemen rata, dan kekurangan tanah, membuat uap bau tanah selepas hujan jadi jarang ternikmati. Atau mungkin saya kehilangan genangan air dan sampahnya yang terikut masuk ke got. Atau mungkin saya miris melihat wajah-wajah semu menggerutu dan bukan wajah-wajah senyum anak-anak tukang payung atau bahkan anak-anak yang bermain bola berbecek-becek. Mungkin sebenarnya pertanyaan ini bukan pertanyaan yang sebenarnya, dan yang seharusnya dipertanyakan adalah, kenapa saya malas berbasa-basi panjang-panjang dan cenderung mengiyakan saja pendapat orang, untuk menyingkat pembicaraan….

Entahlah, yang jelas sekarang hujan dan saya sedang menikmatinya dari balik jendela.





Ingin Kutatap Wajahmu

19 05 2011

Ingin kutatap wajahmu,
wajah yang kekal membayang di benaknya,
yang menganggu mimpi-mimpinya,
yang membuatnya merindumu

Ingin kutatap wajahmu,
dan meneliti guratan diatasnya,
ingin kutahu rupamu,
yang dia cintai sampai ujung napasnya.

Ingin kutatap wajahmu,
mencari alasan ketegaanmu,
mengubur hatinya di dasar rongga dadamu,
hingga tak ada lagi sisa untukku.

Ingin kutatap wajahmu,
supaya kau bisa tatap wajahku,
supaya kau lihat tirai air mataku,
nyeri, karena sulit melupakannya








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.