Selama ini, karena kesal sering kali bermasalah dalam pengurusan visa ke luar negeri dengan paspor Indonesia, sering ada percakapan antar teman2, gimana ya kalau kita ganti paspor aja? Asyik kali ya kalau punya paspor yang diterima di negara mana saja, tanpa perlu ribet-ribet ngurus visa, tanpa perlu deg2an nungguin apakah visa kita akan diapprove atau ngga, tanpa perlu menghadapi pertanyaan2 penuh selidik petugas imigrasi, atau senteran, tatapan penuh selidik anjing2 penjaga perbatasan, dan bebas melenggang keluar airport atau kereta api.
Tapi saya selalu bersikeras. TIDAK, sejelek2nya paspor saya, mengantongi paspor ber-garuda emas adalah identitasku. Saya orang INDONESIA. Walau begitu, hari ini ide itu mau tak mau sempat melintas di kepala.
Semua berawal dari kegembiraan karena akhirnya abstract penelitian saya diterima untuk presentasi di Inggris. Dengan semangat, semua semua prosedur aplikasi ke konsulat Inggris di Dusseldorf saya buat. Ya, Dusseldorf, Jerman. Karena masalah pengetatan budget, pemerintah Inggris menutup konsulatnya di Amsterdam, Belanda, sehingga semua orang non-EU yang perlu visa Inggris, harus jauh2 hari pergi melintas negara ke Jerman, demi pengurusan visa, dan kembali ke Belanda tanpa paspor sambil dag dig dug karena visa akan dikirim via pos dari BERLIN atau FRANKFRUT!!!!!
Jadi pagi ini saya berangkat pagi2 ke stasiun kereta, semua dokumen audah saya siapkan dari 3 hari sebelumnya, termasuk tiket kereta api ICE-krta cepat Jerman yang sudah dibeli 1 bln sebelumnya. Sepuluh menit sebelum kereta berangkat: Maaf, kereta ICE 121 tidak beroperasi hari ini, penumpang disarankan mengambil kereta 1 jam berikutnya. Apaaaaa??????
Semua calon penumpang langsung beranjak ke tiket counter untuk menukarkan karcis. Apa ada kereta lain, tanya saya? Tidak, maaf kata petugas kereta Belanda. Saya mencoba melihat dari web Bahn-DE, krta jerman apakah memang ada alternatif kereta lain…. NIHIL, krta alternatif baru saja berangkat 15 mnt sblmnya…artinya, kalau saja mereka memberitahukan keterlambatan itu lbh awal, sebenernya bisa2 saja saya mengejar kereta ke perbatasan. Ok krta yg berikutnya ini akan tiba 10.20, berarti saya akan terlambat 7 menit utk janji visa. Masih bisa ! Ok, walau ketar ketir dan harus berdiri 2.5 jam dari Utrecht ke Dusseldorf, saya masih bisa menetapi janji visa saya. 10 menit telat masih ditolerir.
Panik2 saya masih mencoba mengkontak visa service UK di Dusseldorf Teman saya Putri terpaksa saya bangunkan pagi2, dan ikut sibuk mencarikan no telp pelayanan visa di Dusseldorf( dan yg ngga bisa dihubungi sblm jam 9)
dan mencoba mengubah jadwal. No.telp di dapat, tapi entah mengapa aplikasi web tidak dapat diakses. Ok, saya tetap mencoba, dan kereta pun sampai di kota perbatasan, Arnhem.
Ratusan orang kembali masuk kereta, mereka2 yang juga terlantar karena krta sebelumnya dibatalkan. Tiba2 diumumkan: Kereta terlalu penuh, mohon penumpang yang tidak reservasi kereta ini turun dan naik bus yang AKAN disediakan sampai Duisburg di Jerman. Apaaaaa?
Terjadi perdebatan sengit, semua orang menolak turun, banyak yang harus mengejar pesawat di Frankfrut. Ini gila! Saya meneteskan air mata. Kesal bukan kepalang! Kalau penuh kenapa tidak dipikirkan alternatif sedari tadi? Kenapa pintu kereta dibuka di Arnhem????
Tahu bakal telat, saya pun mencoba menelpon ke pelayanan visa di Jerman. Ternyata untuk bicara dengan petugasnya, saya harus memasukkan detail kartu kredit dan dicharge 14 USD. Petugas pelayanan visa hanya bisa mengatakan saya harus membuat janji baru, dan kalau tidak datang dalam 10 menit dari jam janji, maka janji otomatis dibatalkan. Segera saya berlari ke pintu keluar dan bertanya pada masinis, dan…. Pintu kereta sudah terkunci karena akhirnya stlh sebagian penumpang turun, krta akan berangkat.
Saya Murka ! Hilang sudah kemampuan bahasa Belanda. Dalam bahasa Inggris saya marah dan katakan pada masinis jutek itu, tolong ya, appointment saya dicancel, ngapain saya ke Jerman??? Kalau gitu kamu bisa turun di kota berikutnya: Oberhaussen! Trus, gw mesti beli karcis baru??????!!!!! Untung (ya, saya orang Indonesia, saya optimistik yang selalu bilang masih UNTUNG), teman si jutek masih baik, dimintanya tiket pulang saya dari Dusseldorf, ditulisnya sebuah nota, sehingga saya bisa kembali ke Utrecht tanpa tambahan biaya. Walau begitu saya tetap kesal, mengucapkan THANK YOU dan ngacir tanpa menunggu dia selesai mengucapkan ” Sorry and thank you for your understanding..”
Saat itulah kata2 teman2 soal paspor Indonesia yang bapuk dan bikin kita didiskriminasi dimana-mana terngiang kembali. Ganti paspor, apakah itu solusi?
Sambil berjalan menyusuri kota Oberhaussen yang mendung, saya malah berpikir sebaliknya.
Kenapa segala kesulitan ini tampak sebanding dengan kehilangan status sebagai warga negara Indonesia. Saya bangga dan cinta jadi bangsa Indonesia, namun kadang saya kehilangan kepercayaan sebagai warga negara Indonesia. Kenapa negara saya membuat warganya sengsara, diinjak2 di negeri orang, dipersulit dan dianggap rendah di negara lain?
Saya lalu putuskan, TIDAK, saya tidak akan pernah menyerah. Tanah air beta INDONESIA, dan di atas pasporku haruslah tercetak si Garuda, bukan burung2 yang lain. Walau kami dipersulit, dicurigai, dianggap remeh, kami akan buktikan, kami orang2 berpaspor Garuda emas, bukan orang sembarangan! Lagian, ngga sudi saya jadi warga negara yang kerjanya ngerepotin orang soal visa ! Atau ngaku2 negara maju, tapi kualitas layanannya sama aja kayak Indonesia.
Lalu bagaimana dengan orang2 Indonesia yang (ingin) mengganti paspornya dengan paspor negara lain? Saya yakin apapun paspornya, di dalam dirinya selalu terpatri sang garuda, selalu ada dalam ingatan bahwa dirinya adalah orang Indonesia, bangsa Indonesia. Kadang2 nasionalisme tidak bisa dengan mudah diterjemahkan dengan paspor semata. Nasionalisme tidak bisa diterjemahkan dengan status, dokumen ataupun keberadaan. Nasionalisme harus diukur dengan sumbangsih positif, dan tingkah laku santun dan ramah, ciri khas orang Indonesia. Keinginan mengharumkan nama bangsa akan selalu ada, dan kadang itu semua harus dicapai dengan mengganti negara.
Selamat berjuang bangsa Indonesia, dimanapun kau berada.
Dan aku akan berjuang, walau harus bersenjatakan paspor hijau ‘bapuk’ ini.
According to …