Hidup Menunggu Mati

Standard

Temanku dan aku sering membicarakan, apa lagi yang kita mau cari di dunia ini? Apa sebenarnya kita sudah mendapatkan semua yang harus kita dapatkan di dunia ini? Apa kita sudah menjadi ‘sesuatu’ yang diharapkan dunia? Apa tugas kita sebenarnya sudah selesai? Kalau ya, kenapa kita tetap hidup? Apa lagi alasan kita untuk bangun besok pagi dan bernafas? Apa supaya otak tidak kekurangan oksigen dan bisa menggerakkan otot semata?

Itulah omong2 kalau sudah tidak tahu lagi mau berbuat apa di ujung hari. Biasanya percakapan ini terjadi setelah satu keinginan tercapai, suatu tujuan dan tugas besar terselesaikan. Kadang terucap saat sebenarnya masih banyak mimpi2, tapi kayaknya sudah sulit digapai, jadi memutuskan puas dengan kehidupan yang sekarang. Bosan, tidak ada lagi yang ditunggu, tidak ada lagi harapan, cuma tahu menghadapi kehidupan dari hari ke hari.

Kesimpulan dari diskusi itu adalah : Hidup sekarang ini tinggal menunggu kapan Mati.

Tadi aku berpikir, mungkin karena itulah orang banyak yang menikah, biar hidup bisa digunakan oleh orang lain. At least setiap hari ada yang ditunggu, setiap tahun ada kerjaan baru mencarikan sekolah buat anak, setiap bulan ada arisan RT (masih ada ya?), dalam 10 tahun dapat cucu, dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin karena itu orang selingkuh. Dapat permainan baru. Pasangan yang ditinggal selingkuh pun dapat kerjaan baru, menguntit selingkuhan, pergi ke pengadilan buat menuntut cerai, dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin karena itu sekolah jadi jauh lebih menyenangkan daripada bekerja. Setidaknya ada yang ditunggu dan jadi patokan pencapaian, kenaikan kelas, wisuda, liburan, tahun ajaran baru, dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin karena itu orang bekerja lebih keras, sikut teman kerja kanan-kiri atau pindah-pindah perusahaan (seperti kenal…), supaya tiap kali ketemu orang baru dan tantangan baru, ketemu inovasi baru yang menghibur, ketemu orang-orang baru yang menghargai ide-idenya, dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin karena itu, akhir minggu dan liburan selalu jadi waktu yang bisa menyenangkan. Bisa tidur sepanjang waktu, nonton film baru, bertemu dengan sesuatu di luar biasa, dan seterusnya dan seterusnya.

Tantangan baru, harapan baru, penantian baru. Kayaknya aku butuh dosis dua kali lipat dari orang biasa ! Kalau tidak hidupku ini seperti menunggu Mati saja !

Advertisements

2 thoughts on “Hidup Menunggu Mati

  1. no no no, please dont be momento mori? karena mati adalah keniscayaan,

    kita bisa memilih mau mati yang seperti apa, dan dalam perjalanan itulah mungkin kita temui banyak hal

    lagipula ada yang bilang mati itu seperti bangun tidur dan hidup seperti bunganya

    cheers =)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s