Biechten

Standard

Pengakuan dosa atau yang bahasa Belandanya Biecthen (udah besar, melalang ke Negara Kincir Angin dan Belajar mengocok ludah di kerongkongan alias belajar bahasa Belanda, baru tahu kalau itu bahasa Belanda, kirain dulu nulisnya Bi-Eten (istrinya Bang Eten, hehehe)), adalah momen paling ketar-ketir dalam hidup orang Katolik, well, at least aku.

Masih ingat waktu kecil, pengakuan dosaku yang pertama : kami-kami yang akan menerima sakramen Komuni Pertama (gerejamu kok selalu bagi-bagi roti sih? Kata temanku..), diharuskan dan disiapkan untuk mendapat Pengakuan dosa kami yang pertama (kalian ngapain sih berduaan sama pastornya di dalam bilik kecil itu? Kata temanku yang lain).

Setahun kami belajar agama agar siap menjadi penganten-penganten kecil berbaju putih, yang nanti setelahnya setiap minggu akan ikutan antre bagi jatah sembako iman dari Pastor. Setiap minggu kami jadi rajin mencatat apa kata-kata pastor waktu kotbah, merangkum dalam buku saku coklat kami dengan ketelitian tingkat tinggi, dan berlari mengejar pastor yang kotbah untuk minta tandatangannya, karena setiap Selasa, saat jam tambahan pelajaran agama untuk komuni pertama, semua itu harus dikumpulkan sebagai bagian dari tugas dan persiapan menerima Komuni. Dan sekarang setelah upaya merangkum, mengejar, dan pulang telat setiap selasa itu, kami harus menghadapi satu lagi rintangan maha sulit : PENGAKUAN DOSA !

Pagi-pagi kami sudah dibariskan, krucil-krucil kelas tiga SD. Masing-masing sudah di-brief mengenai apa yang harus dilakukan dalam ruang sempit itu. Nanti, dibalik jendela ada Pastornya, nah kalian harus mulai dengan kalimat …. Bapa, ini pengakuan dosa saya yang pertama, dosa-dosa saya ialah…… lalu kalian sebutkan dosa-dosa kalian… supaya tidak lupa tulis di kertas kecil, nanti kertasnya dibakar… jangan ketahuan teman… karena pengakuan dosa sifatnya pribadi antara kalian dan Tuhan…. setelah itu minta penitensi (yang belakangan aku juga baru tahu artinya hukuman).. janji tidak mengulangi lagi dosanya… jangan lupa doa tobatnya, dihafalkan ya…..setelah itu maka dosa kalian akan diampuni dan kalian akan jadi seperti bayi lagi………HURRRAY !

Sepertinya brief guru agamaku itu gampang sekali ! Yang terjadi adalah sebuah paradoks (maaf baru selesai baca EDENSOR-nya Andrea Hirata, jadi agak mendompleng kata-katanya). Krucil-krucil itu duduk diam di gereja, menunggu gilirannya masuk ke ruang sempit 2X1 m itu. Rasanya seperti mau masuk ke ruang jagal, tapi yang kena jagal adalah diri sendiri. Saat digiring mendekati pintu jagal , kami saling dorong, memohon pada siapapun yang paling berani untuk maju duluan. Karena apapun bentuknya, mengakui kesalahan diri sendiri ini mengerikan. Membayangkan mengaku pada papa dan mamaku kalau aku mendapat angka merah ulangan saja sudah pasti takut setengah mati, apalagi ini mengaku dosa-dosamu pada Pastor yang belum terlalu kenal (sebenarnya malah mengaku pada Tuhan, kata guruku, walah) !!!

Akhirnya karena perintah suster juga, kami semua duduk bederet-dere di bangku gereja, kami patuh berlutut, berdoa,lalu menunggu. Semua tanpa suara, walau beberapa komat-kamit menghafalkan dosanya, sambil sekali-kali melirik contekan kertas di tangan. Beberapa membuka Madah Bakti (buku nyanyian) nomor 25, tempatnya doa tobat, dihapal, takut nanti kalau lupa dosanya malah nambah dan bukan diampuni. Menit demi menit, satu demi satu, teman-teman kami masuk ke ruang sempit itu, setiap kali ada yang keluar, kami menatap parasnya dengan serius, apakah si pemberani (jelas karena dia sudah berani masuk ruang pengakuan duluan) sudah tampak lagi seperti anak domba yang tidak berdosa? Yang jelas, aku tidak ingat pasti apakah ada satu dari antara teman-temanku yang tampak seperti itu, mungkin karena saat mereka keluar dari balik pintu itu, akunya sibuk panik sendiri, atau sibuk bergeser tempat duduk ke arah yang lebih mendekati pintu ruang pengakuan. Yang jelas kuingat, setelah keluar tampang mereka senyum-senyum khas krucil kelas 3 SD, habis itu mereka menuju bangku kosong gereja terdekat, berdoa, selesai, menoleh kearah teman-temannya yang masih sibuk antri dan sekali lagi menebar senyum kemenangan krucilnya sambil melambaikan tangan…… Yee, gue bisa pulang duluan ! (Karena memang setelah pengakuan dosa itu kami boleh pulang lebih awal…).

Begitulah manusia, memang suka tantangan dan ketegangan, karena suasana di dalam tidak semenakutkan yang dibayangkan. Pasturnya ramah, dan semua berjalan lancar. Setelah keluar bilik pengakuan, kertas catatan dosaku kurobek-robek sampai kecil-kecil lalu kubakar di lilin, supaya jangan ditemukan orang, rahasia dong! Tapi dada rasanya plong, rasanya ada selingkar halo melayang di atas kepala. Legaaaaaaaaaaaa…

Begitulah yang berlaku tahun-tahun kedepannya. Pengakuan dosa kedua, ketiga dan keempat kulalui dengan ketegangan yang sama. Walau di pengakuan dosa kelima, ngga ada lagi yang namanya Contekan dosa, yang kalau dipikir, saran guru agamaku itu kok agak aneh ya, di gereja kok Nyontek….

Tingkah laku mereka yang menunggu juga makin lama makin jauh dari tingkah laku kami krucil kelas 3 SD yang sibuk dengan hapalan. Mereka yang menunggu ‘diampuni’ mengantri dengan tertib, soalnya kalau menyerobot menambah dosa saja . Biasanya antrian paling pendek adalah yang paling diminati; walau mesti hati-hati ada dua alasan mengapa antrian itu pendek, pasturnya memang kerja cepat atau GALAK buakan buatan. Yang paling panjang biasanya, antrian yang pasturnya agak kurang baik pendengarannya. Sambil mengantri ada yang duduk sambil buka buku bacaan atau majalah, mengobrol dan lirik sana-sini cari kesibukan.

Di dalam, bisa ketemu berbagai pastor yang unik, ada yang setengah tidur karena sudah seharian mendengarkan dosa orang-orang (kebiasaan orang Katolik, ngaku dosa pasti kalau sudah mau dekat Natal dan Paskah saja, akibatnya tiba-tiba yang mau ngaku dosa membludak, padahal Pastor-pastor itu menyediakan kupingnya sepanjang tahun), ada yang galak, ada yang kemudian menasehatiku tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakannya, dan bahkan ada yang ketika aku akan mulai malah bilang….. Sebentar ya……….lalu ngeloyor keluar bilik……lo? Untung dia balik lagi, kalau tidak aku sudah berpikir, pasti tampangku pendosa berat sampai pastor saja tidak sanggup memberikan berkat pengampunan !

Tingkah laku mantan pendosa yang keluar bilik pengakuan itu juga macam-macam. Ada yang menangis histeris, ada yang senyum-senyum, ada yang keluar dengan ekspresi Yipii bisa bikin dosa lagi… Ups, mungkin itu tampang para Mafia Italia yang habis mengaku dosa sambil mengantongi revolver. Mungkin pepatahnya It’s not Personal, It’s Bussiness berlaku juga untuk dosa, ada dosa Personal, ada dosa Bisnis. Di Belanda lain lagi, karena pastornya sedikit, maka pengakuan dosa yang ada hanya dilakukan secara masal, bilik-bilik itu di Belanda nampaknya tidak berfungsi. Untunglah, kalau tidak aku tidak tahu berapa lama aku akan mengaku dosa, sambil membalik-balik kamus hitamku itu.

Dan jumat lalu, saatnya pengakuan dosaku tahun ini, sebelum Natal. Maka aku pun antri di barisan paling dekat pintu masuk (alasan efisiensi). Sambil beringsut-ingsut menggeser pantat menuju ruang pengakuan, saat tiba-tiba aku merasa BLANK ! Oh my God, dosa gue kali ini apa ya? Kok, tiba-tiba aku jadi tidak merasa punya dosa lagi, terus ngapain aku ngantri di sini? Kesadaranku bahwa aku manusia biasa yang tidak mungkin tidak berdosa menyadarkanku. Pasti, pasti ada dosa yang kubuat. Aku mundur ingatan ke pengakuan dosa terakhir, mengingat-ingat dosa apa yang terakhir kubuat. Rasanya sejak Paskah, aku yang lebih banyak jadi korban, jadi anak domba yang tidak berdosa dibandingkan jadi serigala. Aku beringsut kesal, muka masam. Orang setelahku yang mengantri ini tidak tahu diri benar, sudah badan besar masih juga memaksa ikut masuk ke dalam bangku gereja yang kecil bersama pacarnya, akibatnya di bangku panjang gereja yang seharusnya hanya muat 6 orang (5 setengah kalau dihitung dengan di bongsor) jadi isinya 7 orang, sempit ! Nga bisa ya nunggu di bangku belakang??? Tambah lagi si gembrot itu malah sibuk ngobrol dengan pacarnya. Ini gereja Bung, acara pengakuan dosa, kok malah pacaran !

Sambil beringsut aku berpikir lagi, apa ya dosaku? Berdasarkan kemampuan hapalan katekismus yang makin memudar, aku mencoba mengingat-ingat sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja, mencoba menilai apakah aku sudah melanggar salah satunya. Tidak berhasil (lebih karena banyak perintah itu aku sudah mulai lupa….) ! Putar otak sambil beringsut, kali ini aku beringsut sedikit saja, jangan sampai si gendut itu melesak lagi bikin sempit. Alamak, kemana semua memoriku, tidak ikut terunduh ke laptopku kan? Begitulah aku makin mendekati ruang pengakuan, akhirnya aku berlutut memohon ampun, dan mengucapkan empat dosa yang sangat general………..dimana dosaku mengumpat-umpat orang gendut di sebelahku itu bisa masuk kategorinya.

Aku jadi berpikir, betapa Pengakuan dosa sudah jadi sakramen rutinitas, kewajiban yang harus dilakukan sebelum Natal dan Paskah. Tidak ada lagi ketegangan sebelum dijagal, tidak ada lagi kelegaan sekeluar dari bilik. Sampai dosa yang diaku pun adalah dosa-dosa yang sama, dosa yang selalu diulang walau … aku berjanji dengan pertolongan rahmatMu tidak akan berbuat dosa lagi……………

Mungkin itulah mengapa si Mafia-mafia Italia dengan mudahnya dar der dor lalu masuk ke bilik pengakuan dosa kemudian dar der dor lagi. Atau orang-orang di film Hollywood yang keliatannya mengaku dosa kalau dosanya cukup berat saja, mulai dari selingkuh sampai membunuh. Bilik pengakuan dosa di film-film juga makin bias kesannya. Malah kadang jadi sumber dosa karena dipakai dua gangster untuk saling bertemu dan bertukar informasi…..

Orang Katolik memang beruntung diberkahi sakramen ini, tapi apa itu memang maksud Tuhan dan Gereja dengan memberikan sakramen ini? Apakah berkat pengampunan yang tidak disertai dengan perbuatan sesuai janji di dalam ruang pengakuan itu valid?

Sampai di rumah aku cuma terpikir untuk curhat lewat blog, walau kenyataannya baru terjadi 3 hari kemudian. Aku lupa mengaku satu dosaku…. Berbohong padaNya. Aku sudah bilang tidak akan melakukan dosa yang sama lagi, tapi kenyataannya… rasanya aku perlu mengaku dosa lagi…

Allah ampunilah aku orang berdosa ini………..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s