Cinta bukan hanya kampungan, dia juga buta ….

Standard

Maaf kalau judul provokatif di atas menyiratkan tentang kisah cinta dua anak manusia. Maaf juga judul tersebut mungkin mengecewakan mereka yang kukenal dan berharap mendapatkan sedikit petunjuk mengenai kisah roman picisan dengan aku sebagai tokoh utamanya.

Cerita kali ini memang tentang kisah cintaku, tapi bukan dengan anak manusia lain.
Ini kisah cintaku dengan sebuah kota bernama Jakarta. Ini sebuah elegi untuk Jakarta.

Orang bilang aku gila, kenapa mencintai Jakarta. Kota tua yang tidak terorganisir, selalu banjir, macet, penuh polusi. Kota metropolitan yang bagi sebagian orang dicap sebagai Sodom-Gomora masa kini. Ibu yang lebih kejam dari ibu tiri. Apa yang indah dari Jakarta sehingga ia layak dicinta?

Dulu tak pernah ada rasa sayang pada kota ini. Walau lahir disana, menghabiskan lebih dari separuh hidup bersamanya, tapi sama seperti warga Jakarta lainnya, aku selalu menyumpah serapah sang kota. Sama seperti sebagian besar warga Jakarta, keluhan yang terlontar kalau dirangkai dalam kata-kata mungkin sudah melebihi kitab-kitab kuno peninggalan sejarah. Sama seperti kebanyakan warga Jakarta, ada rasa terpaksa tinggal di kota ini, karena tinggal di kota lain di Indonesia….. bukan pilihan yang lebih baik untuk karir.

Tahun 2002, hari terakhir ketika akan meninggalkan Jakarta pertama kalinya,menuju Rotterdam, di atas bus patas hijau yang melintas di Grogol, kuucapkan selamat tinggal pada Jakarta. Rasa begitu senang meninggalkan Jakarta. Kuucapkan selamat tinggal pada setiap coretan asal orang-orang iseng di pilar jalan tol, setiap jengkal aspal hitam yang berlubang, dan debu-debu Jakarta yang membuat alergi. Janjiku, tak akan kembali lagi ke Jakarta kecuali untuk liburan….Tapi Jakarta tak menyerah padaku………. Ketika bertahan lebih lama di Rotterdam adalah tak mungkin, dia merengkuhku kembali dalam pelukannya….. Itu 2003.

Berhari-hari, mulutku penuh dengan omelan tentang kaki yang pegal menginjak kopling minimal 3 jam sehari. Berbulan-bulan dihiasi rasa panik saat ada bom dan demo. Aku pun berjuang mencari segala cara untuk meninggalkan Jakarta. Tak ayal, tak satupun menuai hasil.

2007 aku merubah cara pandang. Berusaha mengenal Jakarta lebih jauh, siapa sang ibukota yang selalu hamil tua ini. Berusaha memandang segala kekurangannya dengan lebih arif. Melebarkan kapasitas paru-paru dan menghirup parfum CO-nya. Berusaha mengerti bahwa segala palak, bom dan demo adalah bagian dari hidupnya. Sampai akhirnya, aku mencintainya. Jakarta tak punya lagi kekurangan maupun tambahan kelebihan, Jakarta adalah Jakarta….aku terima kau apa adanya.

Saat itulah, aku menerima panggilan bertubi, untuk meninggalkannya. Dan akhirnya Jakarta harus dikalahkan oleh mimpi lama bernama cita-cita. Berat hati aku pergi meninggalkan Jakarta, Agustus 2008.

November 2009, aku menengok dia. Setelah lebih dari satu tahun memendam rindu. Macetnya bukan lagi keluhan. Heran, aku kangen sekali macet, dan gembira luar biasa saat harus menyetir didalamnya. Naik busway berimpit membuatku terharu. Muka kotor kena debu membuatku berelok rupa. Dan saat malam datang dan lampu-lampu Jakarta berpendar – walau ada pemadaman – aku bersorak kegirangan. Kampungan ! Cinta memang kampungan !

Dan sekarang, aku kembali merindukannya. Dia akan selalu di sana. Jakartaku yang morat-marit, yang macet, yang banjir, yang jalannya bolong-bolong, yang penuh copet, rampok dan tukang todong. Namun kunantikan setiap kesempatan untuk merengkuhnya dalam pelukan…….Cinta bukan hanya kampungan, dia juga buta…

Ke Jakarta aku kan kembali,
walau pun apa yang kan terjadi……..

Advertisements

2 thoughts on “Cinta bukan hanya kampungan, dia juga buta ….

  1. ratna

    wah hebat bisa cinta Jakarta. barusan deta juga baru nulis di FB, katanya banyak yg bisa diliat di jakarta besides the malls. jadi penasaran sama jakarta. hahaha.. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s