Sejak kapan saya benci hujan ?

Standard

Sejak kapan saya benci hujan?

Itu pertanyaan yang menggantung di kepala saat beranjak dari rumah di sore yang basah dan dingin menuju tempat berlatih suara. Sebab musabab saya menanyakan pertanyaan itu pada diri sendiri adalah percakapan yang saya lakukan dengan teman serumah sebelum meninggalkan rumah.

Teman : ” Oh, Wat een regen ! Erg slecht weer !” (Ya ampun, hujannyaaa. Cuaca buruk banget sih)
Saya : ” Ja! Maar toch het is toch een goede weer om te slapen” (Ya,  tapi kan ini cuaca bagus buat tidur)

Di dalam bus, yang penumpangnya semua diam membisu (mungkin mengutuki cuaca) saya jadi bertanya-tanya sendiri mengapa saya mengiyakan pernyataan basa-basi teman saya tadi. Mengapa saya menjawab “Ya” pada pernyataannya soal cuaca yang buruk. Sejak kapan saya jadi benci hujan begini?

Hujan sebenarnya adalah sensasi tersendiri. Guyuran air yang turun ke bumi dari langit. Udara dingin membuai kulit. Suara ribuan partikel yang jatuh ke bawah merambati rantai-rantai berlumut yang menggantung di saluran air, dan bau tanah yang menyengat setelahnya. Saat muda (atau kecil),  setiap hujan yang tak berguntur, biasanya saya menatap jendela, mengamati guyuran hujan yang mengenai tanah, menguapkan baunya yang khas, kemudian membentuk genangan air, yang kian lama kian banyak menyungai di depan pagar rumah, menghayutkan sampah apa saja yang ada di jalan dan meluncurkannya ke dalam got. Sambil sekali-kali berusaha menginspirasikan gerakan aliran air untuk pemahaman lebih akan ilmu biologi atau fisika (usaha yang sia-sia). Momen hening, menatap hujan, rasanya alam begitu indah. Singkat kata, saya suka hujan !

Mungkinkah saya benci hujan sejak saya pindah ke negeri kincir ini? Percakapan antara saya dengan teman serumah di atas adalah percakapan basa-basi standar khas orang Belanda. Percakapan antar mereka biasanya diawali soal ramalan cuaca, kapan matahari akan bersinar (mooi weer – cuaca bagus) dan soal cuaca mereka yang buruk. Topik pembicaraan soal cuaca ini dimaklumilah adanya, karena walau di benua Eropa, ada 4 musim, di Belanda tampaknya hanya ada dua musim, musim “Mooi weer” dan musim “Slecht weer”(Cuaca buruk). Musim “Mooi Weer” dapat dihitung dengan jari keberadaannya dalam setahun, dan biasanya dirayakan orang Belanda dengan ramai-ramai berjemur di bawah sinar matahari. Kadang mereka tidak bisa mengerti alasan kita yang menolak bergabung karena alasan”takut hitam” saat “Mooi weer”. Dalam 356 hari dalam setahun, “Mooi weer” cuma berlaku sekitar mungkin, 30 hari (ini hitungan kasar saya sendiri). Jadi, maklum saja kalau di musim “slecht weer”, semua orang rata-rata menjadi bernegatif ria dan menggerutu.

Mungkin karena pengaruh cuacanya, atau pengaruh orang-orang dalam menghadapi cuaca inilah yang membuat saya urun mengiyakan bahwa hujan adalah sesuatu yang negatif, sesuatu yang perlu dihina dan dijabat sebagai “SLECHT WEER”. Bukan lagi nuansa romantis yang selalu ditunggu-tunggu ditatap dari balik jendela.

Atau mungkin bahkan sebelum itu. Di Jakarta, mungkinkah semua kebencian dimulai? Hujan sama dengan (tambah) macet dan banjir. Bedanya, di Jakarta, alih-alih keluhan akan cuaca yang terdengar, umpatan akan pemerintah kota yang tidak becus menanggulangi masalah yang akan terdengar. Apa karena itu imbasnya aku jadi kurang suka kalau hujan? Walau, menatap rintik hujan yang jatuh ke kaca mobil depan, atau melihat tawa anak-anak tukang payung, mencium bau tanah dari lubang-lubang di pinggir jalan……..Rasanya aku masih cinta hujan di Jakarta.

Jadi apakah cuma sekarang, di Belanda ini saya jadi benci hujan? Mungkin saya merindukan bau tanahnya. Jalan yang bagus, semua yang tersemen rata, dan kekurangan tanah, membuat uap bau tanah selepas hujan jadi jarang ternikmati. Atau mungkin saya kehilangan genangan air dan sampahnya yang terikut masuk ke got. Atau mungkin saya miris melihat wajah-wajah semu menggerutu dan bukan wajah-wajah senyum anak-anak tukang payung atau bahkan anak-anak yang bermain bola berbecek-becek. Mungkin sebenarnya pertanyaan ini bukan pertanyaan yang sebenarnya, dan yang seharusnya dipertanyakan adalah, kenapa saya malas berbasa-basi panjang-panjang dan cenderung mengiyakan saja pendapat orang, untuk menyingkat pembicaraan….

Entahlah, yang jelas sekarang hujan dan saya sedang menikmatinya dari balik jendela.

Advertisements

One thought on “Sejak kapan saya benci hujan ?

  1. gue masih cinta ujaan…asal jgn banjir ajah. Grappig that u classify the weer in to two types. Kl gue sih menikmati aja. Mungkin karena kita pendatang n dr negeri tropis yg seneng liat salju n udara dingin, jd lebih appreciate hujan, dingin, salju dkk…’Yaaang..hujan turun lagi…’ 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s