Tak ada mimpi yang konyol

Standard

Salzburg, Austria, Musim Semi 2003.

Kala itu di musim semi yang ceria, saya sedang menempuh program master di Belanda. Saya dan teman-teman menikmati liburan musim semi dengan berback-packing ria ke kota Salzburg di Austria. Tujuan saya ke kota ini tidak lain tidak bukan adalah napak tilas lokasi pembuatan film favorit kami : The Sound of Music. Sesampainya di sana, kami pun mengikuti sebuah rombongan tour, dan mengunjungi tempat-tempat penting dalam film the sound of music, seperti tangga do-re-mi, biara tempat Maria, dan seterusnya. Sampailah kami akhirnya di lokasi syuting halaman belakang rumah keluarga Von Trap, di Schloss Leopoldskron. Saya sudah bersemangat menjenguk tempat ini karena inilah tempat adegan-adegan favorit saya di dalam film. Namun sungguh sayang, menurut ibu pemandu wisata, tempat itu tidak dapat kami masuki, karena merupakan properti pribadi dari ‘Harvard University’. Kami hanya bisa mengamatinya dari seberang danau. Dalam kekecewaan, saya pun secara bercanda mengatakan pada teman saya, suatu hari nanti saya akan bergabung dengan Harvard, supaya dapat masuk ke halaman belakang kastil itu. Buat saya kala itu, keinginan itu bagai sebuah mimpi konyol yang terucapkan.

 

Singapore, pertengahan 2007.

Seperti biasa, saat kebetulan mendapatkan kesempatan bertugas ke Singapore, saya selalu memampirkan diri di toko buku Borders (yang sudah ditutup tahun 2008). Tujuannya untuk mendapatkan novel-novel bahasa Inggris terbaru dari pengarang2 favorit saya (yang harganya lebih miring di Singapore). Sayang sekali, hari itu, tak satu pun novel baru yang bisa saya temukan. Secara acak, saya pergi ke deretan buku kesehatan. Saat itulah saya melihat sebuah buku paperback dengan cover berwarna oranye menyala. Judulnya : Powerful medicines: the benefits, risks and costs of prescription drugs.

Buku itu karangan Jerry Avorn, seorang profesor di bidang Farmakoepidemiologi dari Harvard Medical School. Setelah memulai membaca buku itu, saya tidak dapat meletakkanya, padahal itu buku non-fiksi yang tidak mendayu-dayu. Saya bagaikan mendapatkan ilham baru akan dunia yang saya geluti dan kemana saya harus melangkah. Setelah selesai membaca, saya mencari informasi lebih lanjut mengenai Jerry Avorn, saya menemukan profil bagian Pharmacoepidemiology and Pharmacoeconomics, Harvard Medical School. Saat itu saya merasa, wah bagian yang hebat, beruntung ya kalau suatu saat bisa ke sana. Tapi saya menganggap keinginan saya saat itu konyol, karena, masa sih orang seperti saya bisa sampai ke Harvard ?

 

Jakarta, awal 2008

Saya menemukan lowongan PhD di Utrecht Universitiet di Belanda, temanya kurang lebih sama dengan tema di buku tersebut. Saya pun membuat surat lamaran dengan inspirasi baru saya dari buku tersebut, bahkan buku tersebut saya satir. Singkat cerita, saya akhirnya diterima menjadi PhD student di Utrecht. Buku itu saya boyong bersama saya, saya taruh di antara buku yang lain, sedikit terlupakan.

 

Utrecht, The Netherlands, 2012.

Saya telah menyelesaikan PhD, tinggal mempertahankan thesis saya di acara ceremonial. Sejak awal tahun 2012, ketika tahu akan lulus, saya sibuk memperbaiki CV dan berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian saya yang baru. Tak dinyana, krisis ekonomi yang menimpa dunia saat itu membuat lamaran kerja saya ditolak dimana-mana, baik di dunia industri maupun akademik. Dana riset yang makin terbatas membuat saya yang bergerak di bidang yang kalau boleh dibilang kering (metodologi), sulit mendapatkan dana. Walau tidak dikatakan, saya tahu proposal penelitian lanjutan saya dianggap tidak penting. Awalnya saya masih menghitung surat penolakan yang saya terima, mencoba mengevaluasi, dimana salahnya. Tapi sampai hitungan ke 70-an saya berhenti. Sudah tidak sanggup. Saya hampir putus asa, rasanya perjuangan selama 4 tahun membela ilmu yang saya cintai tak ada gunanya. Buat apa riset ini kalau tidak bisa dipakai. Sahabat-sahabat saya mungkin kadang lelah menghadapi kenegatifan saya. Menangis di depan umum kadang-kadang tidak bisa ditahan lagi. Kecewa. Kecewa Berat.

Saat membenahi buku-buku saya, saya melihat lagi buku oranye itu. Saya teringat lagi soal mimpi-mimpi konyol saya untuk pergi ke Harvard, untuk mendapat kesempatan mengunjungi halaman belakang Schloss Leopoldkron yang indah. Saya pun iseng melihat lagi website divisi Pharmacoepidemiology and Pharmacotherapy. Ternyata divisi ini membuka kesempatan buat mereka yang ingin dilatih menjadi peserta Post-doctoral. Saya pun berpikir, mengapa tidak? Toh, saya sudah sering ditolak, satu surat penolakan lagi tidak akan ada bedanya. Saya pun mengirimkan surat lamaran ke divisi itu. Lalu saya lupakan. Saya pun sibuk bersedih gundah gulana, mengirim lebih banyak surat lamaran dan menghadapi surat penolakan yang lain.

Dalam keadaan itu, saya menerima sebuah email dari… siapa lagi, divisi Pharmacoepidemioloy di Harvard. Mereka bahkan ternyata tertarik dengan ide saya dan menanyakan, kapan bisa mulai bergabung?

 

Boston, Akhir Mei 2014

Telah setahun saya bergabung dengan divisi Pharmacoepidemiology and Pharmacotherapy. Di hari pertama saya bergabung, Jerry Avorn, si empunya buku bahkan menyapa saya (hahaha seperti bertemu idola). Hari-hari pertama saya sempat minder, takut tidak bisa mengerti omongan orang-orang super pintar ini. Tapi saya salah, saya bahkan bisa berdiskusi dengan mereka. Saya meninggalkan Boston membawa inspirasi dari orang-orang yang bekerja keras, inovatif, terkenal dan didengar di bidangnya, namun sangat sederhana dan rendah hati. Saya mungkin belum mewujudkan impian konyol saya hampir 10 tahun sebelumnya, pergi ke halaman belakang Schloss Leopold di Salzburg, Austria. Belakangan saya tahu, kastil itu milik Alumni Harvard, bukan Harvard university itu sendiri, sehingga kemungkinan rapat-rapat di sana sangat kecil (LOL). Bahkan ternyata kastil itu sudah dijadikan hotel dan jika saya punya cukup uang, saya bisa-bisa saja menginap di sana sekarang 🙂

 

Jangan pernah mengecilkan mimpi, sekonyol apapun itu. Hanya mimpi yang tidak berbatas, dan untuk merealisasikannya, kamu hanya perlu mengingatnya terus, berusaha dan tidak menganggapnya konyol. Jika mimpimu berguna dan tidak membahayakan orang lain, semesta pasti akan mewujudkannya.

Advertisements

2 thoughts on “Tak ada mimpi yang konyol

  1. Diriku terharu bebeneran membaca ini…..
    Omong-omong, mengenai Borders Singapura, pas ke sana tahun 2011 masih ada (bersyukur), tapi waktu itu memang santer bahwa bentar lagi akan ditutup. Sungguh sayang….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s